Ziggy Z: Di Tanah Lada

27213435

Tanah [kb.]: (1) permukaan bumi atau lapisan bumi yg di atas sekali; (2) keadaan bumi di suatu tempat; (3) permukaan bumi yg diberi batas; (4) daratan; (5) permukaan bumi yg terbatas yg ditempati suatu bangsa yg diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara.

— Lada [kb.]: Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

-dikutip dari halaman 217, Bab Sehidup Semati. 


Untuk pertama kalinya, nama penulis terpaksa kusingkat karena terlalu panjang. Di Tanah Lada ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, pemenang II Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 (seriously, I need to check her name thrice, I don’t want to misspell her name). Aku dipinjamkan novel ini oleh seorang teman, karena dia pikir aku akan tertarik membaca cerita dengan perspektif anak-anak.

Jujur, setelah membaca To Kill The Mockingbird, aku memang penasaran bagaimana cara penulis memakai sudut pandang polos anak-anak di bawah usia sepuluh tahun. Well, jadi ketika aku mulai membaca, aku tidak bisa menahan diri membandingkan Ava dan Scout. Kalau Scout adalah cerminan pendidikan Barat dengan ayah terpelajar dan keluarga terhormat, maka Ava dan P adalah anak-anak Indonesia yang menjadi korban kekerasan anak dan sering kali diabaikan sampai tidak tertolong.

Ava, si tokoh utama, hanya anak perempuan berusia 6 tahun, yang sayang pada Mama dan Kakek Kia, membawa kamus pemberian Kakek Kia ke mana-mana dan tidak pernah paham kenapa Papa begitu membencinya. P (ya, namanya memang cuma satu huruf), si tokoh utama laki-laki, baru berusia 10 tahun, pintar bermain gitar, tidak bersekolah dan dibenci oleh ayahnya sendiri. Ava dan P dipertemukan di rusun Nero dengan masalah yang sama, Papa. Dalam hitungan hari, keduanya menjadi dekat layaknya belahan jiwa. Aku menikmati proses Ava dan P menjadi dekat sampai pada satu kesimpulan mengapa buku ini dinamakan Di Tanah Lada.

Kata-kata, arti dan format kamus dalam novel ini memberi makna lebih ketika digunakan dalam sudut pandang anak-anak. Kita sudah lupa kapan tepatnya kita belajar bahwa kata A berarti A sampai-sampai kita juga lupa bahwa anak-anak tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kita. Kita mungkin beruntung punya orangtua dan keluarga yang membantu kita memahami kata-kata, tapi bagi Ava, kamus pemberian Kakek Kia adalah satu-satunya yang bisa membantu memahami.

Membaca kisah ini dalam sudut pandang Ava sungguh membuat perasaanku teraduk-aduk. Di satu sisi, aku gemas pada sikap ignorance khas anak-anak mereka, tapi di sisi lain aku paham mereka, ya, cuma anak-anak yang kurang beruntung. Orangtua atau orang dewasa dalam kisah ini memainkan peran penting dalam membentuk karakter dua anak ini. Motivasi Mama bertahan dengan Papa. Alasan mengapa Papa menjadi pemarah. Perhatian Kak Suri pada P. Mas Alri yang selalu muncul bagai pahlawan.

Seperti yang dikatakan Mas Alri, salah satu tokoh dewasa, bahwa didikan yang salah membuat anak-anak ini memandang dunia dengan skeptis. Bahwa semua papa itu jahat. Bahwa di dunia ini tidak ada hal baik. Maka aku tidak heran ketika akhir kisah ini berakhir seperti itu.

Aku jelas kecewa bahwa penulis mengakhiri cerita seperti itu. Alih-alih sedih, aku justru merasa miris. Karakter P sejak awal memang pemikirannya jauh lebih dewasa daripada Ava (untuk ukuran anak-anak). Aku tahu mungkin P tidak paham konteks dari tindakannya. Ia mungkin menganggap tindakannya adalah salah satu cara menuju kebahagian—menuju Tanah Lada. Aku tidak paham bagaimana P bisa sampai pada kesimpulan untuk memilih tindakan tersebut. Dan Ava yang polos dengan sukarela ikut serta karena mereka sehidup dan semati.

Buku ini aku rekomendasikan untuk pembaca yang ingin melihat dunia dalam kacamata anak-anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s