Film: Train to Busan

train_to_busan-p1

Klik di sini untuk melihat profil dan sinopsis film.


Train to Busan hits all the right notes : horror, thriller and drama.

Rasanya aku ingin menuliskan satu kalimat singkat itu saja untuk review film ini, tapi aku juga terlalu excited untuk membahas film ini dengan detil sehingga aku terus menulis. Train to Busan sudah masuk daftar film yang ingin aku tonton sejak mendengar kabar rilisnya dari Dramabeans. Alasan utamanya adalah aku penggemar berat science-fiction, yang berarti genre film ini jelas sangat pas.

Selain alasan genre, aku memperhatikan daftar pemeran Train to Busan yang hampir semuanya adalah aktor dan aktris favoritku. Ada Gong Yoo (Coffee Prince, Big), Jung Yumi (Discovery of Love), Ma Dongseok (Bad Guys), Choi Wooshik (Hogu’s Love, Rooftop Prince), Kim Euisung (W-Two Worlds), dan tentu saja si kecil Kim Suan (Cart). Belum lagi, ada cameo Shim Eunkyung (Miss Granny) yang ternyata ikut mengisi suara pada film animasi prekuel Train to Busan, yaitu Seoul Station. Bicara soal kualitas akting, tidak perlu dipertanyakan lagi ya, mereka sudah diakui sebagai aktor-aktor bertalenta.

Secara plot, banyak yang berkomentar bahwa Train to Busan adalah gabungan dari Snowpiercer dan World War Z. Akan tetapi karena aku cuma pernah menonton World War Z—cara terinfeksi dan gerakan zombie-nya memang mirip—dan belum pernah menonton Snowpiercer, aku tidak bisa memberikan pendapatku mengenai hal ini. Menurutku sendiri, plot Train to Busan memang simpel tapi sarat sentuhan film khas Korea Selatan, yaitu nilai plusnya ada pada interaksi dan karakter para tokoh film.

Dalam Train to Busan, tokoh utama yaitu Manager Seokwoo (Gong Yoo) adalah anti-hero—seseorang yang hanya peduli dengan dirinya sendiri dan putrinya, Suan (Kim Suan). Transformasi yang terjadi pada Seokwoo sepanjang film yang membuat penonton bersimpati dan merubah karakternya menjadi true hero. Begitu pula dengan tokoh-tokoh lain yang sama menariknya, seperti kakak beradik nenek-nenek In-gil dan Jong-gil yang menjadi plot twist paling memuaskan, kisah khas anak SMA antara Young-gook dan Jin-hee, bapak gelandangan tak bernama yang sejak awal berusaha mati-matian menyelamatkan diri namun justru berkorban di akhir, dan yang paling menyedihkan Sang-hwa dan istrinya Sung-yeon yang sedang hamil. Bahkan COO Yong-suk yang sangat egois pun sulit untuk dibenci karena di satu sisi mau tak mau aku paham motif tindakannya.

train-to-busan1

Reaksi tokoh-tokoh dalam film adalah reaksi normal orang-orang dalam keadaan antara hidup dan mati. Dari awal ketika kekacauan terjadi dengan menunjukkan respon pemerintah tentang kondisi tersebut. How ironic to hear government said your safety isn’t in jeopardy when the scene showed exact opposite of it? Sepanjang film hampir tidak ada yang menggunakan senjata api untuk membunuh zombie yang menunjukkan mereka hanya warga sipil biasa yang jelas tidak siap menghadapi situasi seperti ini. Seok-woo, Sang-hwa dan lain-lain hanya bermodalkan tinju mereka, pemukul baseball dan rencana cerdik untuk menyelamatkan diri. Reaksi yang dialami para tokoh dalam film membuatku bertanya-tanya, apa yang akan aku lakukan jika berada dalam kondisi yang sama? Selfishly save my self? Try to help or even sacrifice for others?

Sinematografinya tidak terlalu dark untuk ukuran film dengan genre horror dan thriller, namun audio dan musik sangat mendukung membangun suasana menegangkan, terutama bagian dimana zombie-nya bergerak. Seriously, I screamed a lot for the characters to run faster!

Ada beberapa diskusi menarik tentang Train to Busan. Salah satunya bertanya-tanya darimana virus Zombie berasal. Ada yang berpendapat bahwa penyebab infeksi virus itu dijelaskan dalam film animasi Seoul Station, namun aku juga belum menontonnya. Tapi memang ada penjelasan sedikit di bagian tengah film tentang perusahaan Seok-woo sebagai penyebab. Aku menduga dari sedikit petunjuk di awal mungkin perusahaan Seok-woo mendanai proyek yang menyebabkan kerusakan lingkungan—ingat, factory leaking di scene awal film—yang akhirnya menyebabkan munculnya infeksi tersebut.

Ada juga yang mempertanyakan kemampuan Zombie. Setelah menonton, aku membuat kesimpulanku sendiri kalau: 1) Zombie tidak bisa berpikir, berarti mereka tidak bisa melakukan tindakan kompleks dan bergerak sesuai insting dan rangsang. Itu menjelaskan mengapa mereka tidak bisa membuka pintu dan mengapa mereka bereaksi hanya saat melihat atau mendengar gerakan manusia; 2) Zombie tidak bisa melihat dalam kegelapan, berarti mereka mengandalkan indera. Itu menjelaskan mengapa mereka tidak menyadari keberadaan manusia lain saat gelap; 3) Satu-satunya cara untuk terinfeksi adalah dengan digigit dan transformasinya berlangsung sangat cepat.

Tapi … sebenarnya diskusi-diskusi itu tidak terlalu penting.

Pesan yang disampaikan Train to Busan secara tersirat lebih penting. Survival is tricky. Bahwa manusia bisa menjadi sangat egois demi melindungi diri sendiri, namun juga bisa membangun aliansi atas nama menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Kesimpulannya, Train to Busan adalah gambaran realistis distopia yang sungguh tega. Realistis dengan gambaran reaksi yang terjadi, distopia dengan bencana infeksi zombie dan tega dengan akhir yang mungkin terduga tapi tidak sesuai dengan keinginan kalian. It is seriously a ride full of thrill, horror and emotional tears. Percayalah, kamu akan merasa lelah setelah menonton karena tegang dan emosional sepanjang film.

Rekomendasi: Penggemar science-fiction, terutama zombie outbreak.

Get on board to stay alive!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s