Film: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu_Bersama_Bapak

Klik di sini untuk melihat profil film


Aku menaruh ekspektasi yang tinggi pada Sabtu Bersama Bapak sejak Deta bercerita soal novel yang diangkat sebagai film ini. Belum lagi setelah melihat trailer dan materi promosi sebelum film ini tayang yang membuatku penasaran. Ketika menulis mengenai film ini, aku sama sekali belum membaca novelnya untuk mencegah penilaianku agar tidak bias dan kecenderunganku yang bisa kecewa jika film tidak sesuai dengan ekspektasi yang diangkat dari novel.

Sabtu Bersama Bapak mengejutkanku ketika langsung dibuka dengan kenyataan pahit yang harus dialami Bapak. Aku tidak menyangka sedari awal akan langsung disuguhkan dengan kesedihan dan tragedi, meskipun perlahan suasana menjadi lebih hangat dan komedi (dengan hint bittersweet) ketika Satya dan Saka sudah dewasa.

Nilai kekeluargaan dan pendidikan anak memang paling ditonjolkan dalam film ini, terlihat jelas dari sikap Satya terhadap dua anaknya dan Saka yang dekat sekali dengan ibunya. Aku sudah menduga akan ada konflik dari Satya berkaitan dengan pesan-pesan dalam video Bapak. Satya si sulung jelas sangat mengandalkan pesan tersebut, menjadikannya nyaris terobsesi untuk bisa seperti bapak sampai-sampai ia lupa bahwa ia adalah dirinya sendiri dengan kehidupannya sendiri. Konfrontasi antara Satya dan Bapak dalam mimpi disorot dengan sangat baik, tetapi perubahan suasana yang mendadak dari amarah menjadi kesedihan sedikit terlihat kurang mulus.

Beda lagi dengan Saka, si bungsu. Aku menduga karena ia lebih muda, Saka tidak terlalu bergantung pada pesan Bapak seperti Satya karena ia masih terlalu muda untuk membangun ikatan seperti Bapak dan Satya ketika belajar taekwondo (and it suddenly crossed my mind, apakah Saka pernah merasa terdiskriminasi karena itu selain karena Satya lebih tampan dari dirinya?).

Seluruh pemeran dalam Sabtu Bersama Bapak (pardon me, but not really a fan of the child actors who potrayed Ryan and Miku) berhasil meninggalkan impresi yang sangat baik buatku melalui akting mereka. Setiap adegan dimainkan dengan emosi yang sesuai, termasuk yang komedi sekalipun. Cuma perpindahan antar adegan yang jauh berbeda suasananya sering kali terlalu kontras, sehingga aku merasa seolah-olah dilempar dari adegan penuh tawa lalu mendadak menjadi penuh tangis drama. Sinematografinya cukup menarik karena ada beberapa adegan yang disorot dengan sisi yang cukup unik, seperti sepatu dan video.

Sabtu Bersama Bapak memang tidak memenuhi ekspektasi awalku, tapi aku setuju film ini mengandung nilai moral yang baik tentang prinsip-prinsip hidup. Kudos to Adhitya Mulya, sang penulis novel.

Yuk, dukung terus Film Indonesia!
#rinduayah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s