Christopher Paolini: Inheritance

Perhatian! Mengandung spoiler buku ke 4 : Inheritance.


Semua berawal dengan Eragon…

Dan berakhir dengan Warisan.

Kalimat itu tercetak di sampul belakang buku dan aku sama sekali tidak berpikir kalau kalimat itu berarti secara harfiah; kisah ini memang dimulai dari buku pertama ‘Eragon’ dan berakhir di buku terakhir ‘Inheritance’ atau ‘Warisan’ yang melengkapi seri ‘Inheritance Cycle’ atau ‘Siklus Warisan’. Terakhir kali aku membaca petualangan Eragon, Saphira, Arya dan sekutu-sekutu mereka yang tergabung dalam Varden sudah lama sekali sehingga aku kesulitan ketika mulai membaca seri buku ini lagi, akibatnya 920 halaman buku ini yang biasanya kuselesaikan dalam hitungan hari, harus puas bisa kuselesaikan dalam hitungan bulan. Tapi aku merasa puas telah menyelesaikan kisah yang menarik ini.

Eragon, si pemuda petani miskin kini telah bertransformasi menjadi seorang Penunggang, pendekar yang tangguh, yang mampu menggunakan sihir dan seorang Shadeslayer. Ia dan Saphira sejak awal telah menanggung seluruh nasib umat manusia di Alegaësia dan sekarang sudah tiba waktunya untuk membuktikan kemampuan mereka. Menghadapi Murtagh dan Thorn, menghadapi Galbatorix dan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan tugas mereka.

Aku selalu menyukai karakter Eragon. Pemikiran-pemikirannya tentang jati diri, nama sejati, batas kemampuan, impian di masa depan, keraguan dan bahkan sifat-sifat tercela. Eragon tidak sempurna, tapi ia —seperti yang dikatakan Nasuada— adalah lelaki berhati nurani yang paling berbahaya di dunia. Sama seperti The Choosen One lainnya dalam setiap buku, Eragon memang layak dipuja dan dihormati, tapi ia juga punya kekurangan-kekurangan yang membuatnya manusiawi. Lihat saja tingkahnya ketika mengerjai keong raksasa dengan kekanak-kanakan.

Interaksi Eragon dengan Saphira selalu menarik untuk dibaca. Apalagi kemudian ditambah dengan kehadiran naga lain dalam bentuk Eldunarí yang bahkan beberapa benak mereka tidak dapat dimengerti Eragon. Rasanya aku mengerti perasaan itu; seperti bicara dengan kakek atau nenek kita sendiri, mereka menyampaikan kebijaksanaan —hasil dari pengetahuan dan pengalaman kehidupan— dalam cara yang tidak terlalu bisa kita mengerti atau terlalu kita anggap kuno, namun ketika kita tiba dalam satu posisi, akan tiba saatnya kita mengerti. Tanpa perlu kata-kata, hanya esensi dan emosi. Begitulah cara Eragon melawan Galbatorix yang akhirnya memberinya gelar baru : Kingkiller.

Meskipun aku menyesal Eragon tidak berakhir dengan Arya dan Saphira juga tidak bisa bersama Firnen, aku lebih menyesali hubungan Murtagh dan Nasuada yang berakhir secepat ia dimulai. Bagian penyanderaan Nasuada dalam Aula sang Pengucap Kebenaran dan Bunyi Suaranya, Sentuhan Tangannya adalah beberapa bab favoritku selain Ruang Jiwa-Jiwa yang mengejutkan dan Gua-Duri-Tengkek-Hitam yang diceritakan dengan kocak dalam sudut pandang Saphira.

Ada ikatan yang aneh antara Murtagh dan Nasuada yang aku lupa atau memang tidak pernah aku tangkap dari buku sebelumnya. Motivasi Murtagh meringankan rasa sakit Nasuada akibat penyiksaan Galbatorix dan keinginannya membantu Nasuada melarikan diri sungguh tak terduga. Belum lagi pengakuan Murtagh pada Nasuada. Begitu pula, Nasuada yang selalu kuat dan teguh pendirian akhirnya menangis di pelukan Murtagh setelah penyiksaan tempayak liang Galbatorix. Yang paling kentara ketika Nasuada diserang dengan ilusi tentang masa depan bersama Murtagh dan keempat anak mereka. Murtagh memang kejam dan murid Galbatorix tapi Nasuada membuatnya memiliki motivasi lain—merubahnya yang kemudian berpengaruh pada pemberontakan mereka melawan Galbatorix. Meski dalam buku tidak ditulis dan tanpa diucapkan, pun aku tahu : mereka saling mencintai and I ship them hard. Sayang sekali, mereka tidak bisa bersama.

Ruang Jiwa-Jiwa adalah bagian yang paling mencengangkan di buku ketika memahami rahasia yang sudah dimulai bahkan sejak buku pertama. Aku ikut tersenyum dan lega mengetahui bahwa ras naga masih bisa diselamatkan. Gua-Duri-Tengkek-Hitam dalam sudut pandang Saphira memberi hiburan tersendiri. Si naga pesolek selalu menggunakan istilah lucu seperti si mahkluk-kaki-dua-bertelinga-bundar atau rekan-sehati-dan-sebenak atau kepedulian Saphira terhadap sisiknya yang lebih mengilat daripada Thorn yang membuatku sering tertawa sendiri meski segawat apa pun kondisi yang terjadi dalam buku. Hidup Saphira dan sisik moncongnya yang akhirnya tumbuh kembali! #LOL

Bagian terakhir buku ini memuaskan, namun sekaligus menyedihkan. Sejak awal aku sudah menduga memang tugas Eragon dan Saphira untuk membangun kembali klan Penunggang dan naga, tapi aku tidak menyangka ia harus mengambil keputusan untuk meninggalkan Alegaësia. Ketika Eragon meminta Arya untuk tinggal dan elf itu menolak, ugh, my heart breaks for him. Eragon menawarkan hampir semua orang yang disayanginya untuk ikut dengannya, tapi tidak ada yang bisa menerima tawarannya, bukan berarti mereka tidak mau. People has life and their own responsibilities, I know, but still…. Sigh, I think I can connect to Eragon on that term.

Anyway, aku senang sudah pernah mengenal Eragon dan seluruh tokoh dalam seri Inheritance Cycle ini. Akhir perjalanan ini memang sulit, sesulit keputusan Eragon dan Saphira demi membangun kembali klan Penunggang dan naga, tapi aku puas berhasil menyelesaikannya.

Untuk kalian penggemar Eragon dan Saphira; pembaca sejati yang sabar dan tidak mudah ditaklukkan oleh fisik buku yang setebal batu bata ini; serta para pembaca yang selalu senang dengan kisah fantasi dan petualangan menegangkan, Inheritance mungkin sulit untuk diselesaikan tapi ia pantas untuk dicoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s