[15] Batas Tepi

559361983

#aprilblogadaychallenge

Day 15 : The Worst Day of My life


Batas Tepi

Ditulis oleh Rizki Amalia

Peringatan : Untuk usia 15 tahun ke atas dengan bimbingan orang tua. Mengandung muatan yang tidak cocok untuk di bawah umur. Kebijaksanaan pembaca disarankan.


Berdiri tepat di tepi batas lantai teratas tanpa kaki bergetar bisa dianggap prestasi tersendiri, bukan? Kirana sudah berdiri di sana selama hampir sepuluh menit. Matanya menerawang jauh, menatap kerlap kerlip akibat lampu jalanan dan mobil-mobil yang memenuhi jalan. Kemudian ia menunduk, menatap lantai paving block keras di bawahnya.

Sejak dulu ia bertanya-tanya : apa rasanya jatuh dari ketinggian sepuluh meter? Apakah ia hanya merasa melayang untuk kemudian terbangun di suatu tempat antara hidup dan mati seperti ketika ia bermimpi sedang jatuh dan mendadak terbangun? Apakah justru ia akan merasakan sakit yang amat dalam karena tulang-tulangnya berderak patah dan melukai organ lainnya? Yang paling penting adalah apakah dengan jatuh lantas ia menjadi bebas?

Kirana tidak tahu jawabannya karena ia belum pernah jatuh.

Tapi ia penasaran.

Sebelah kakinya terangkat, mencoba-coba mengukur keseimbangannya. Apakah ia harus melompat dengan satu kaki? Atau menggunakan dua kaki seperti terjun bebas? Angin malam mendesau meski malam kering kerontang dan Kirana masih menimbang-nimbang.

Ia tahu Tuhan tidak akan mengampuninya jika ia benar-benar melompat dan tiba-tiba ia tertohok. Lantas apa gunanya ia lompat kalau ia bebas dari dunia ini untuk menderita di kehidupan berikutnya yang lebih kekal?

Ah, Kirana bodoh, rutuknya dalam hati. Kalau kau kebanyakan pikir, kau tidak akan lompat.

Tapi Kirana sudah hidup selama dua puluh tahun bertemankan akal dan logika. Tidak mungkin ia bertindak tanpa berpikir dua kali dulu. Keputusannya sampai pada tepi atap gedung ini juga sudah dipikirkannya dua kali. Ia akan jadi manusia bodoh kalau tidak berpikir dulu sebelum melompat.

Benaknya memutar kejadian dalam beberapa hari ini. Tidak ada kejadian baik. Semuanya buruk kalau tidak mau dikatakan sangat buruk. Kirana paham benar pepatah sudah jatuh tertimpa tangga karena ia mengalaminya sendiri. Beban-beban kehidupan, hutang tanggung jawab sampai rasa malu yang ia rasakan sendiri karena tidak bisa menjalankan keduanya dengan baik datang menghantamnya layaknya gelombang Tsunami. Runtuh sudah segala akal dan logika. Ia sudah tak tahan berada di dunia ini.

Kali ini ia mantap akan melakukannya.

Lalu tiba-tiba azan berkumandang. Keras sekali. Panggilan itu menyentak Kirana, menggoyahkan lututnya yang bahkan tidak gemetar saat berdiri di ketinggian. Ia terduduk dengan lemah, kaki menggantung pada tepi atap.

Air matanya tumpah seperti keran bocor. Azan mengingatkannya pada ayah yang mengumandangkannya pada telinganya saat masih bayi dan pada ibu yang selalu mendoakannya. Ia gila kalau mengorbannya keduanya.

Kirana sudah tak punya tenaga lagi. Perlahan-lahan ia menarik kakinya dari tepi atap, berpijak kembali dalam jangkauan aman lantai. Tidak ada yang pernah memperhatikan ia ada di sana. Jadi Kirana berjalan menuju sumber suara azan dalam langkah pelan, tak bertenaga dan penuh kesedihan. Seharusnya memang sedari tadi ia melakukan apa yang ibunya ajarkan, bukannya berdiri di tepi atap.

Kirana tahu ia bisa saja mengalami fase ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. Ingin menyerah, kemudian sadar diri. Iya hanya berharap, akan terus bisa menyadarkan diri dari kebodohannya sendiri.

Satu lagi kebodohan Kirana, atap yang dipakainya melompat kebetulan satu lantai dengan masjid di dalam gedung. Untuk kali ini, kebodohan itu menyelamatkannya.

© 2016 rizkiamalia234

Advertisements

One thought on “[15] Batas Tepi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s