[12] Mem-film-kan Buku

shutterstock_92369284

#aprilblogadaychallenge

Day 12 : Something I Feel Strongly About

Belakangan ini, tren mem-film-kan buku atau komik sedang marak dilakukan. Hampir seluruh seri young-adult yang terkenal telah difilmkan, sebut saja Harry Potter #1-#7 (part 1 dan 2), The Maze Runner, Chronicles of Narnia, Percy Jackson, The Mortal Instruments, Twilight, Fifty Shades of Grey, The Giver, Divergent, The Hunger Games dan yang baru-baru ini dimulai The 5th Wave. Belum lagi hampir semua akhir series selalu dibagi dalam dua bagian yang kelihatannya juga menjadi tren tersendiri.

Sebenarnya dalam menyikapi tren ‘mengangkat buku ke layar lebar’, aku tercabik antara rasa senang dan khawatir dimana porsi rasa khawatir jauh lebih banyak dibandingkan rasa senang.

Popularitas sebuah buku akan langsung terangkat ketika difilmkan. Jumlah penggemar buku-buku tersebut bisa melonjak dan mereka akan tertarik untuk menemukan sequelnya sambil menunggu film selanjutnya keluar. Hal ini jelas membuatku merasa senang karena aku punya semakin banyak teman yang membaca buku yang sama. Diskusi mengenai karakter akan lebih menyenangkan.

Belum lagi ditambah ketika imajinasi dalam buku divisualisasikan ke dalam bentuk film. Betapa menyenangkannya bisa melihat setting yang biasanya hanya kamu bayangkan. Siapa sih yang tidak senang saat melihat Percy diperankan oleh Logan Lerman?

Di balik itu semua, aku menyimpan kekhawatiran yang amat besar tentang fenomena itu. Seperti yang pernah aku sebutkan dalam The Perks of Being a Bookworm bahwa buku menyediakan kebebasan absolut bagi pembaca. Ketika imajinasi dalam buku difilmkan terkadang tidak sesuai dengan imajinasi pembaca bisa meninggalkan kekecewaan mendalam. Pemilihan aktor yang akan memainkan peran tertentu pun bisa mendapat kritikan ketika ia tidak memerankannya dengan baik atau sesuai karakter buku.

Yang paling mengkhawatirkan buatku adalah ketika penulis asli buku tidak dilibatkan dalam pembuatan skenario untuk film. Hasilnya plot dalam film bisa berubah total. Selain itu durasi film yang terbatas kadang tidak bisa menangkap seluruh inti cerita dari buku tersebut. Alhasil ada bagian yang diubah, dipotong dan dihilangkan yang lagi-lagi jika perubahannya ekstrim akan membuat pembaca yang menonton kecewa (Psst, masih kesal dengan perubahan plot besar-besaran TMR : The Scorch Trials).

Meskipun banyak film yang diangkat dari buku telah menuai kesuksesan, sebut saja Lord of The Ring dan The Hobbits, namun tidak sedikit pula yang mendapat sambutan biasa saja bahkan cenderung mengecewakan seperti The Mortal Instruments dan Eragon yang sampai saat ini sekuelnya belum difilmkan lagi.

Sebagai seorang pembaca yang juga menonton buku yang diangkat ke layar lebar, aku menyarankan kalian untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi saat menonton. Film memang terbatas untuk mencakup seluruh kisah buku, tapi menyaksikan visualisasi buku dalam film juga cukup memuaskan. Kalau kecewa, baca saja bukunya kembali untuk sedikit mengobati hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s